Temuramah Obama Dengan Arabia

Author: hamzah salleh // Category:








Kebanyakan ahli politik, peniaga, ahli akademik di seluruh dunia sedang mengintai dan meneliti polisi-polisi presiden baru Amerika. Secara sepintas lalu, tiada banyak polisi utamanya dilihat berbeza. Cumanya Obama mengambil pendekatan sedikit yang dikira terbuka dan lembut bagi dalam usahanya merapatkan hubungan Muslim dan Amerika. Sehingga beliau sudi ditemuramah oleh television al-arabia.

Sebelum ini, Presiden Obama kelihatan telah membuat sesuatu di luar dugaan masyarakat Islam apabila menjadi presiden Amerika pertama yang menyebut perkataan Muslim sebanyak dua kali di dalam ucapan sulong pada 20 Jan 09 yang lalu.

Beliau juga pertama kali dilihat memberi ruang ekslusif bagi tv arab untuk menemuramahnya, hasratnya adalah untuk mengajak masyarakat Islam dan Iran agar tidak lagi mengganggap Amerika sebagai musuh utama. Obama cuba mengajak masyarakat Islam berkawan dengan Amerika serta ‘redha' dengan polisi-polisi luarnya yang sama sekali tidak membawa redha umat Islam.

Ya, ada sedikit perbezaan, apabila Amerika yang biasanya dilihat sebagai angkuh, ego dan ‘jahat' kali ini berubah rentak kepada ‘lunak' dan memujuk. Obama berkata :-

And my job is to communicate to the American people that the Muslim world is filled with extraordinary people who simply want to live their lives and see their children live better lives. My job to the Muslim world is to communicate that the Americans are not your enemy. We sometimes make mistakes. We have not been perfect. But if you look at the track record, as you say, America was not born as a colonial power, and that the same respect and partnership that America had with the Muslim world as recently as 20 or 30 years ago, there's no reason why we can't restore that. Andthat I think is going to be an important task

 

 

HASRAT OBAMA TERCABAR

        Namun hasrat itu akan tercabar, jika dasar polisi luar Amerika tetap sebagaimana dahulu khususnya adalah:-

      1) Kepentingan Yahudi Israel sentiasa diutamakan dan mereka akan tetap bersama Amerika.

      2) Yahudi Isreal tetap berhak sepenuhnya ‘mempertahankan' dirinya (dengan menyerang negara lain). Obama berkata :-

N    Now, Israel is a strong ally of the United States. They will not stop being a strong ally of the United States. And I will continue to believe that Israel's security is paramount. But I also believe that there are Israelis who recognize that it is important to achieve peace. They will be willing to make sacrifices if the time is appropriate and if there is serious partnership on the other side.

     3) Sebarang penyeludupan senjata ke Palestin mesti disekat. Iaiu menafikan kemampuan Palestin untuk mempertahankan dirinya jika diganggu gugat. Tanpa senjata Umat Islam Palestin boleh diterajang dan disiat dengan amat mudah sahaja.

      4) Iran mesti memberhentikan proses Nuklear yang boleh mengancam ‘keamanan'.

Namun ucapan Obama memperlihatkan dirinya cuba memengani hati semua pihak, sehingga dilihat sorong tarik dalam ucapannya, apabila ia berkata pula :-

I think it is possible for us to see a Palestinian state - I'm not going to put a time frame on it

Ia satu kenyataan yang baik tapi dalam masa yang sama Obama mengakui sokongan Amerika tanpa belah bagi dengan Israel di tahap "paramount" , namun langsung tidak mengulas penderitaan masyarakat Palestin semasa diserang dan juga di ketika ini di mana bekalan bantuan di sekat dari masuk ke Gaza.


PUJUKAN OBAMA

Obama juga turut cuba meraih sangka baik masyarakat Islam menggunakan kekuatan latar belakangnya seperti memaklumkan terdapat ahli keluarganya yang muslim serta beliau pernah tinggal di Indonesia.

Now, my job is to communicate the fact that the United States has a stake in the well-being of the Muslim world that the language we use has to be a language of respect. I have Muslim members of my family. I have lived in Muslim countries.

Secara peribadi, saya yakin ramai akan menolak dan terlalu skeptik dengan lafaz ini, namun terus terang ,saya masih boleh bersangka baik dengan usahanya walaupun sedar tiada banyak perkara besar boleh berubah. Namun kalau sedikit perubahan yangbaik boleh ditawarkan, itu satu peluang baik buat umat Islam.

Selain itu saya juga selesa dengan kenyataanya ketika memberi gambaran tugas wakil Amerika ke Timur Tengah apabila berkata :-

And George Mitchell is somebody of enormous stature. He is one of the few people who have international experience brokering peace deals.

And so what I told him is start by listening, because all too often the United States starts by dictating -- in the past on some of these issues --and we don't always know all the factors that are involved. So let's listen. He's going to be speaking to all the major parties involved. And he will then report back to me. From there we will formulate a specific response.

Ya, Amerika sebelum ini hanya mendengar dan mendapat gambaran berkenaan Islam dari sumber-sumber Yahudi. Mereka juga kerap membuat keputusan dan mengkesampingkan pandangan umat Islam. Kali inilah masa umat Islam menyampaikan mesej dan gambaran sebenar Islam.

Jika anda membaca transkrip interview Obama dengan AlArabia. Saya yakin ramai yang akan merasa keliru apakah sebenarnya perancangan Obama, ada yang berbaik sangka dan ada yang tetap selamanya berburuk sangka. Namun semua kita faham, Obama sedang berusaha menjaga hati semua pihak bagi meraih sesuatu yang luar biasa bagi dirinya sebagai Presiden Amerika. Kedudukan sepertinya pasti akan sentiasa ke sana dan ke sini, bergantung kepada 'dengan siapa anda bercakap'.


BEZA EXTREMIST DAN ISLAM

Saya juga agak selesa dengan kenyataan Obama yang membezakan antara Islam dan keganasan, seperti :-

what we need to understand is, is that there are extremist organizations -- whether Muslim or any other faith in the past -- that will use faith as a justification for violence. We cannot paint with a broad brush a faith as a consequence of the violence that is done in that faith's name.

Bagi kita bersifat adil dan teliti, mari kita sama-sama membaca transkrip di bawah dan kemudian bolehlah kita sama-sama meneka, mengagak dan meramal sendiri. Masing-masing punyai pendapat sendiri.


Sekian

-------------------------------------------------------------------------------------------------

The following is a full transcript of Hisham Melhem's interview with President Obama on Al Arabiya TV:


Q: Mr. President, thank you for this opportunity, we really appreciate it.

THE PRESIDENT: Thank you so much.

Q: Sir, you just met with your personal envoy to the Middle East, Senator Mitchell. Obviously, his first task is to consolidate the cease-fire. But beyond that you've been saying that you want to pursue actively and aggressively peacemaking between the Palestinians and the Israelis. Tell us a little bit about how do you see your personal role, because, you know, if the President of the United States is not involved, nothing happens - as the history of peace making shows. Will you be proposing ideas, pitching proposals, parameters, as one of your predecessors did? Or just urging the parties to come up with their own resolutions, as your immediate predecessor did?

THE PRESIDENT: Well, I think the most important thing is for the United States to get engaged right away. And George Mitchell is somebody of enormous stature. He is one of the few people who have international experience brokering peace deals.

And so what I told him is start by listening, because all too often the
United States starts by dictating -- in the past on some of these issues --and we don't always know all the factors that are involved. So let's listen. He's going to be speaking to all the major parties involved. And he will then report back to me. From there we will formulate a specific response.

Ultimately, we cannot tell either the Israelis or the Palestinians what's best for them. They're going to have to make some decisions. But I do believe that the moment is ripe for both sides to realize that the path that they are on is one that is not going to result in prosperity and security for their people. And that instead, it's time to return to the negotiating table.

And it's going to be difficult, it's going to take time. I don't want to prejudge many of these issues, and I want to make sure that expectations are not raised so that we think that this is going to be resolved in a few months. But if we start the steady progress on these issues, I'm absolutely confident that the United States -- working in tandem with the European Union, with Russia, with all the Arab states in the region -- I'm absolutely certain that we can make significant progress.

Q: You've been saying essentially that we should not look at these issues -- like the Palestinian-Israeli track and separation from the border region -- you've been talking about a kind of holistic approach to the region. Are we expecting a different paradigm in the sense that in the past one of the critiques -- at least from the Arab side, the Muslim side -- is that everything the Americans always tested with the Israelis, if it works. Now there is an Arab peace plan, there is a regional aspect to it. And you've indicated that. Would there be any shift, a paradigm shift?

THE PRESIDENT: Well, here's what I think is important. Look at the proposal that was put forth by King Abdullah of Saudi Arabia --

Q: Right.

 

THE PRESIDENT: I might not agree with every aspect of the proposal, but it took great courage --

Q: Absolutely.

THE PRESIDENT: -- to put forward something that is as significant as that.
I think that there are ideas across the region of how we might pursue peace.

I do think that it is impossible for us to think only in terms of the
Palestinian-Israeli conflict and not think in terms of what's happening with Syria or Iran or Lebanon or Afghanistan and Pakistan. 

These things are interrelated. And what I've said, and I think Hillary Clinton has expressed this in her confirmation, is that if we are looking at the region as a whole and communicating a message to the Arab world and the Muslim world, that we are ready to initiate a new partnership based on mutual respect and mutual interest, then I think that we can make significant progress.

 

Now, Israel is a strong ally of the United States. They will not stop being a strong ally of the United States. And I will continue to believe that Israel's security is paramount. But I also believe that there are Israelis who recognize that it is important to achieve peace. They will be willing to make sacrifices if the time is appropriate and if there is serious partnership on the other side.

And so what we want to do is to listen, set aside some of the preconceptions that have existed and have built up over the last several years. And I think if we do that, then there's a possibility at least of achieving some breakthroughs.

Q: I want to ask you about the broader Muslim world, but let me - one final thing about the Palestinian-Israeli theater. There are many 
Palestinians and Israelis who are very frustrated now with the current conditions and they are losing hope, they are disillusioned, and they believe that time is running out on the two-state solution because - mainly because of the settlement activities in Palestinian-occupied territories.

Will it still be possible to see a Palestinian state -- and you know the contours of it -- within the first Obama administration?

THE PRESIDENT: I think it is possible for us to see a Palestinian state -- I'm not going to put a time frame on it -- that is contiguous, that allows freedom of movement for its people, that allows for trade with other countries, that allows the creation of businesses and commerce so that people have a better life.

And, look, I think anybody who has studied the region recognizes that the situation for the ordinary Palestinian in many cases has not improved. And the bottom line in all these talks and all these conversations is, is a child in the Palestinian Territories going to be better off? Do they have a future for themselves? And is the child in Israel going to feel confident about his or her safety and security? And if we can keep our focus on making their lives better and look forward, and not simply think about all the conflicts and tragedies of the past, then I think that we have an opportunity to make real progress.

But it is not going to be easy, and that's why we've got George Mitchell going there. This is somebody with extraordinary patience as well as extraordinary skill, and that's what's going to be necessary.

Q: Absolutely. Let me take a broader look at the whole region. You are planning to address the Muslim world in your first 100 days from a Muslim capital. And everybody is speculating about the capital. (Laughter) If you have anything further, that would be great. How concerned are you -- because, let me tell you, honestly, when I see certain things about America -- in some parts, I don't want to exaggerate -- there is a demonization of America.

THE PRESIDENT: Absolutely.

Q: It's become like a new religion, and like a new religion it has new converts -- like a new religion has its own high priests.

THE PRESIDENT: Right.

Q: It's only a religious text.

THE PRESIDENT: Right.

Q: And in the last -- since 9/11 and because of Iraq, that alienation is wider between the Americans and -- and in generations past, the United States was held high. It was the only Western power with no colonial legacy.

THE PRESIDENT: Right.

Q: How concerned are you and -- because people sense that you have a different political discourse. And I think, judging by (inaudible) and
Zawahiri and Osama bin Laden and all these, you know -- a chorus --

THE PRESIDENT: Yes, I noticed this. They seem nervous.

Q: They seem very nervous, exactly. Now, tell me why they should be more nervous?

THE PRESIDENT: Well, I think that when you look at the rhetoric that they've been using against me before I even took office --

Q: I know, I know.

THE PRESIDENT: -- what that tells me is that their ideas are bankrupt. There's no actions that they've taken that say a child in the Muslim world is getting a better education because of them, or has better health care because of them.

In my inauguration speech, I spoke about: You will be judged on what you've built, not what you've destroyed. And what they've been doing is destroying things. And over time, I think the Muslim world has recognized that that path is leading no place, except more death and destruction. 

Now, my job is to communicate the fact that the United States has a stake in the well-being of the Muslim world that the language we use has to be a language of respect. I have Muslim members of my family. I have lived in Muslim countries.

Q: The largest one.

THE PRESIDENT: The largest one, Indonesia. And so what I want to
communicate is the fact that in all my travels throughout the Muslim world, what I've come to understand is that regardless of your faith -- and America is a country of Muslims, Jews, Christians, non-believers -- regardless of your faith, people all have certain common hopes and common dreams.

 

And my job is to communicate to the American people that the Muslim world is filled with extraordinary people who simply want to live their lives and see their children live better lives. My job to the Muslim world is to communicate that the Americans are not your enemy. We sometimes make mistakes. We have not been perfect. But if you look at the track record, as you say, America was not born as a colonial power, and that the same respect and partnership that America had with the Muslim world as recently as 20 or 30 years ago, there's no reason why we can't restore that. Andthat I think is going to be an important task.

But ultimately, people are going to judge me not by my words but by my actions and my administration's actions. And I think that what you will see over the next several years is that I'm not going to agree with everything that some Muslim leader may say, or what's on a television station in the Arab world -- but I think that what you'll see is somebody who is listening, who is respectful, and who is trying to promote the interests not just of the United States, but also ordinary people who right now are suffering from poverty and a lack of opportunity. I want to make sure that I'm speaking to them, as well.

Q: Tell me, time is running out, any decision on from where you will be visiting the Muslim world?

THE PRESIDENT: Well, I'm not going to break the news right here.

Q: Afghanistan?

THE PRESIDENT: But maybe next time. But it is something that is going to be important. I want people to recognize, though, that we are going to be making a series of initiatives. Sending George Mitchell to the Middle East is fulfilling my campaign promise that we're not going to wait until the end of my administration to deal with Palestinian and Israeli peace, we're going to start now. It may take a long time to do, but we're going to do it now.

We're going to follow through on our commitment for me to address the Muslim world from a Muslim capital. We are going to follow through on many of my commitments to do a more effective job of reaching out, listening, as well as speaking to the Muslim world.

And you're going to see me following through with dealing with a drawdown of troops in Iraq, so that Iraqis can start taking more responsibility. And finally, I think you've already seen a commitment, in terms of closing Guantanamo, and making clear that even as we are decisive in going after terrorist organizations that would kill innocent civilians, that we're going to do so on our terms, and we're going to do so respecting the rule of law that I think makes America great.

Q: President Bush framed the war on terror conceptually in a way that was very broad, "war on terror," and used sometimes certain terminology that the many people -- Islamic fascism. You've always framed it in a different way, specifically against one group called al Qaeda and their collaborators. And is this one way of --

THE PRESIDENT: I think that you're making a very important point. And that is that the language we use matters. And what we need to understand is, is that there are extremist organizations -- whether Muslim or any other faith in the past -- that will use faith as a justification for violence. We cannot paint with a broad brush a faith as a consequence of the violence that is done in that faith's name.

And so you will I think see our administration be very clear in
distinguishing between organizations like al Qaeda -- that espouse violence, espouse terror and act on it -- and people who may disagree with my administration and certain actions, or may have a particular viewpoint in terms of how their countries should develop. We can have legitimate disagreements but still be respectful. I cannot respect terrorist organizations that would kill innocent civilians and we will hunt them down. 

But to the broader Muslim world what we are going to be offering is a hand of friendship.

Q: Can I end with a question on Iran and Iraq then quickly?

THE PRESIDENT: It's up to the team --

MR. GIBBS: You have 30 seconds. (Laughter)

Q: Will the United States ever live with a nuclear Iran? And if not, how far are you going in the direction of preventing it?

THE PRESIDENT: You know, I said during the campaign that it is very important for us to make sure that we are using all the tools of U.S. power, including diplomacy, in our relationship with Iran.

Now, the Iranian people are a great people, and Persian civilization is a great civilization. Iran has acted in ways that's not conducive to peace and prosperity in the region: their threats against Israel; their pursuit of a nuclear weapon which could potentially set off an arms race in the region that would make everybody less safe; their support of terrorist organizations in the past -- none of these things have been helpful.

But I do think that it is important for us to be willing to talk to Iran, to express very clearly where our differences are, but where there are potential avenues for progress. And we will over the next several months be laying out our general framework and approach. And as I said during my inauguration speech, if countries like Iran are willing to unclench their fist, they will find an extended hand from us.

Q: Shall we leave Iraq next interview, or just --

MR. GIBBS: Yes, let's -- we're past, and I got to get him back to dinner with his wife.

Q: Sir, I really appreciate it.

THE PRESIDENT: Thank you so much.

Q: Thanks a lot.

THE PRESIDENT: I appreciate it.

Q: Thank you.

THE PRESIDENT: Thank you



empat isu semasa-ulasan ringkas

Author: hamzah salleh // Category:



Terdapat beberapa isu semasa yang sering dipersoalkan pada masa sekarang. Ramai yang meminta ulasan tentang isu-isu semasa yang berkait dengan Islam seperti orang bukan Islam membaca ayat Al-Quran, penggunaan nama Allah bagi penganut Kristian, keputusan kabinet untuk membiarkan anak kekal dalam agama masing-masing walau selepas ibu bapanya memeluk Islam, dan isu bahasa Melayu untuk pengajaran sains dan matematik.


PERTAMA  : ORANG BUKAN ISLAM MEMBACA AL-QURAN

Isu ini timbul dari kempen ceramah politik pakatan rakyat di pilihanraya Kecil Bukit Gantang, terdapat dua kelompok masyarakat Islam ketika mengamati peristiwa ini. 
  • Pertama : Yang tidak bersetuju serta menganggap ia sebagai penghinaan khususnya disebabkan kesilapan sebutannya dan nama surah. 
  • Kedua : yang tidak melihat sebagai satu kesalahan malah menganggapnya sebagai satu kelebihan buat Islam.

Setelah mendengar sendiri ucapan Yang Berhormat yang berkenaan di youtube, dan setelah meneliti hujjah kedua-dua kelompok, saya secara peribadi dan atas dasar ilmiah, tidak nampak sebarang masalah yang besar atau yang boleh dihebohkan.

Ia adalah kerana :-

1)   Banyak dalil jelas menunjukkan bukan Islam turut membaca sama ada secara tertutup atau terbuka ayat-ayat al-quran di zaman Nabi sa.w. Malah ayat-ayat al-Quran digelar mu'jizat (sesuatu yang mencarik adat dan luar biasa serta melemahkan musuh). apabila ayat-ayatnya diteliti oleh ahli sastera kafir quraisy, tatkala itulah baru mereka mendapati Al-Quran adalah sebuah kalam Allah dan bukan hasil pemikiran manusia.

2)   Nabi s.a.w turut menghantar surat yang mengandungi ayat-ayat Al-Quran kepada pemimpin bukan Islam di zamannya. Tentunya ia dibaca dan sememangnya untuk diwarwarkan.

3)   Ayat Al-Quran juga turut dibaca oleh Umar al-Khattab semasa beliau belum Islam. Akhirnya menjadikannya Islam.

4)   Ayat yang dibaca bukan dalam intonasi dan situasi menghina tetapi adalah untuk menegaskan intipati keperluan kepada kesaksamaan dan keadilan dalam kehidupan. Benar, ia adalah satu penghormatan dan bukan penghinaan.

5)   Kesalahan sebutan dan nama surah, adalah dimaafkan bagi mereka yang dalam pembelajaran, apatah lagi orang bukan Islam. Terlalu ramai umat Islam yang masih gagal membaca al-Quran dengan betul malah ramai juga yang langsung tidak mampu membacanya. Tun Dr Mahathir turut pernah menyebut nama surah  dengan sebutan yang salah, ketika menyampaikan ceramah umum beliau di Nilam Puri pada tahun 1993, semasa beliau menghentam PAS yang ingin memperkenalkan hudud.

 

KEDUA : PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH KRISTIAN

Isu ini turut menjadi hangat khususnya apabila terdapat beberapa pandangan diberikan oleh kumpulan ilmuan. Kumpulan pertama yang tidak membenarkan dengan pelbagai hujjah dan nas, demikian juga kumpulan kedua. Secara asasnya, ini adalah isu cabang dalam bab aqidah yang tidak sama sekali menjatuhkan seseorang dalam kekafiran, perbezaaan pendapat dan ijtihad adalah dibenarkan dalam hal ini.

Dalil-dalil yang diutarakan oleh kedua-dua kumpulan, masih terdiri dari dalalah yang zhonniah, hasil takwilan dan tafsiran. Hanya yang tidak memahami ilmu Usul Fiqh sahaja akan merasakan ia tergolong dalam hal usul yang jatuh kufur bagi yang berbeza. Juga tiada wajar bagi menuduh secara rambang bahawa sesiapa yang membenarkan tergolong dalam kategori Islam liberal, mungkin sebahagiannya benar ingin menyamaratakan semua agama, namun tidak semuanya membenarkan dengan niat sedemikian.

Setelah melakukan penilaian terhadap pelabagai hujjah dan pandangan silam dan kontemporari. Secara asasnya, saya lebih cenderung kepada pendapat yang membenarkan penganut kristian untuk menggunakan nama Allah swt. Antara nas yang paling jelas adalah :

Dan sesungguhnya, jika kamu (Wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka?" sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah!". (jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan? Dan (Dia lah Tuhan Yang mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman!" (al-Zukhruf : 87-88).

Ini hanya satu dalil sahaja, memang boleh diperdebatkan dengan pelbagai sisi pandang SEPERTI mentafsirkan Allah dalam ayat itu bukan sebagai ‘ALLAH' dalam konteks yang dikhususkan oleh Islam yang terkandung di dalam surah al-Ikhlas, tetapi adalah tuhan pencipta secara umum.

Namun di dalam kaedah dalam fiqh, memerlukan kepada dalil lain jika takwilan sedemikian ingin dilakukan. Khususnya masyarakat Jahiliyyah sudah sedia maklum berkenaan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s, dan Allah telah difahami merujuk kepada siapa.

Tidak dilupakan, perlu diingat, sama ada nama Allah digunakan di dalam Bible atau tidak, itu tidak sama sekali  penting untuk kita, kerana Bible bukan rujukan kita tetapi Al-Quran. Oleh itu, merujuk  kepada bible dalam mencari pendirian dalam hal ini adalah salah sama ada secara sedar atau tidak sedar. Umat Islam hanya merujuk Al-Quran dan Hadis dalam menentukan sikap dan pendirian, bukan Bible. Apatah lagi Bible yang wujud hari ini bukannya injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as.

TETAPI ..

Namun demikian, itu adalah dalam konteks penelitian dalil dan nas, atau konteks ilmiah. Dalam konteks kesesuaian dan Siyasah Syari'yyah khususnya bagi mengelakkan salah guna dan kekeliruan khususnya di Malaysia, saya cenderung untuk BERSETUJU PENGHARAMAN PATUT DIBUAT oleh pihak kerajaan.

Selain itu, saya juga tidak setuju istilah lain seperti solat, kaabah digunakan oleh pihak Kristian.

Memang benar, mudarat dan maslahat mungkin sahaja berbeza mengikut penilaian masing-masing, dan tentunya ia bakal memberikan kecenderungan berbeza-beza. Namun pada hemat dan penilaian saya, unsur kemudaratan lebih wajar dielakkan dalam hal ini. Justeru itu, penggunaan nama Allah oleh pihak Kristian khususnya dalam penulisan mereka, amat wajar dilarang oleh pihak kerajaan. Ye di dalam hukum Islam, kerajaan berhak memutuskan hukuman di dalam konteks menghalang mudarat.

Terutamanya apabila mengenang keadaan umat Islam yang ada hari ini terlalu amat lemah. Keadan missionary bukan Islam yang amat galak untuk menggunakannya dengan tujuan-tujuan tertentu. Kemunculan beberapa kumpulan bukan Islam yang dirasakan akan mempermainkan dan menyalahgunakan nama Allah dalam tulisan mereka secara berleluasa.  Jika dilakukan kajian teliti terhadap hal mudarat ini, eloklah ia dilarang.

Sekali lagi perlu diingatkan, perlu diperbezakan keputusan hukum dan siyasah syar'iyyah.  Sekuat manapun hujjah untuk membenarkan kristian menggunakan nama Allah, namun dari sudut mudarat, ia wajar dilarang sama ada dalam tempoh tertentu atau berterusan atau mungkin boleh dibenarkan tetapi dengan syarat-syarat tertentu bagi menhindarkan mudarat yang boleh menimpa orang awam Islam yang lemah.



KETIGA :  ANAK KEKAL DALAM AGAMA ASAL

Berlaku lagi isu yang dianggap sensitif berkait isu agama, sebagaimana kes jenazah individu yang dipertikai sama ada telah menganuti Islam atau tidak semasa hayatnya.

Merujuk kepada laporan akhbar tempatan, keputusan kabinet Menteri memutuskan bahawa setiap ibu bapa yang menukar agamanya ke agama lain, anak-anak mereka yang dibawah umur tidak akan bertukar secara automatik, malah mereka akan kekal dalam agama asal sehinggalah mereka dewasa dan membuat keputusan sendiri selepas itu.

Pelbagai artikel ditulis dalam hal ini, saya tidak berhasrat untuk mengulang-ulang apa yang telah ditulis. Fatwa dari empat mazhab turut disertakan. Secara ringkasnya, majoriti mazhab berpandangan anak akan menjadi Islam secara automatik sama ada ayah atau ibunya menganuti Islam. Manakala mazhab Maliki pula hanya meletakkan kemasukkan Islam secara automatik itu hanya berlaku jika si ayah yang menganuti Islam. Justeru itu, menurut pandangan keempat-empat mazhab, kes  yang berlaku di Malaysia ini, anak turut automatik menjadi Islam.

PKPIM juga ada mengeluarkan kenyataan yang baik, disamping menyertakan beberapa kes lama yang boleh dijadikan panduan dalam menetapkan sikap terhadap kes terbaru ini, iaitu :-

  • "Berdasarkan kes Subashini Rajasingam lwn Saravanan Thangathoray, Mahkamah Persekutuan telah memutuskan bahawa si bapa mempunyai autoriti dan kuasa untuk mengislamkan anak berlandaskan Perkara 12(4) Perlembagaan Persekutuan walaupun tanpa persetujuan ibu.
  • "Sementara itu, Perkara 12(4) Perlembagaan Persekutuan telah menyatakan bahawa agama bagi seseorang yang di bawah umur 18 tahun perlu ditentukan oleh ibu-bapa (salah seorang) atau penjaga. 
  • "Manakala Seksyen 95 Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam 1993 telah memperuntukkan bahawa seorang anak yang berumur 18 tahun ke bawah boleh memeluk agama Islam sekiranya ibu-bapa (salah seorang) atau penjaga anak tersebut memberi keizinan,"

Secara kesimpulan, sudah tentu saya cenderung kepada pendapat majoriti yang menganggap secara autoamtik anak-anak menjadi Islam. Namun demikian adalah lebih tepat dan hikmah jika si suami dapat mengambil keputusan bijak mengelakkan isu ini dibawa ke mahkamah dan berusaha sedaya mampu mengajak isterinya tuurt serta menganuti islam sebagai cara hidup mereka. Dapatkan bantuan bijak pandai antara agama jika perlu.

Selain itu amat wajar untuk pihak berkuasa merujuk Majlis Fatwa Kebangsaan sebelum melakukan sebarang kenyataan umum berkait isu Islam. Saya bersetuju dengan pendapat Mufti Perak bahawa isu ini memerlukan perbincangan Majlis Fatwa Kebangsaan,

Namun masalah yang paling ketara jika dirujuk ke Majlis Fatwa adalah tidak pasti bilakah mereka mampu memberi respond dan jawapan. Wallahu'alam.



KEEMPAT : ISU PENGGUNAAN BAHASA INGGERIS BAGI MENGAJARKAN MATEMATIK DAN SAINS

Ini juga isu hangat yang ditanyakan kepada saya, namun saya tidak mampu memberikan banyak idea berkenaan isu ini khususnya kerana ia adalah satu isu yang lebih dominan berkaitan keputusan politik dalam sesebuah negara.  

Apa sahaja yang diputuskan oleh pihak kerajaan sememangnya perlu berdasarkan hasil kajian terperinci teori dan praktikal, kesan dan target, perbincangan peringkat atasan, ahli akademik, guru, murid, ibu bapa dan ahli politk. Hanya selepas ini semua dilalui, barulah pihak kerajaan patut memutuskan keputusan. Bagi saya, itu cara terbaik jika sesebuah kerajaan menghormati minda dan idea rakyatnya. Malah setiap keputusan yang diambil pula tidak semestinya tidak boleh dibuah, boleh sahaja dicuba beberapa tahun dan dilihat kesan buruk dan baiknya, kemudian ia terbuka kepada pindaan dan perubahan. Yang menjadi maslaah hari ini, kerajaan mungkin malu untuk membuat penilaian dan pindaan kerana bimbang akan dituduh sebagai flip flop dan yang sepertinya.

Perlu diingat, tekanan politik yang menghentam sehingga terlebih had, sehingga bertindak dan tidak bertindak, kedua-duanya akan dihentam, bakal membawa kerugian kepada banyak pihak. Ada kalanya terdapat individu yang ingin melakukan perubahan kebaikan, tetapi membatalkannya kerana tidak mahu dihina dan dimalukan akibat dituduh flip flop selain dianggap tidak cekap dalam membuat keputusan politik. Padahal, keputusan untuk sesebuah negara bukan mudah, malah dengan kajian sekalipun, ia mungkin sahaja tersilap atau berubah berdasarkan keperluan dan zaman.

Malah para ulama sendiri pun banyak yang terpaksa mengubah fatwa dan pendirian apabila mendapat info baru. Seperti Imam As-Syafie yang mengubah beberapa fatwanya ketika berada di Mesir. Adakah ini menjadikan Imam Syafie rh, flip flop dan tidak cerdik.? Tidak timbul isu tidak cerdik sebenarnya, itulah adalah sifat kemanusiaan biasa yang ilmu kita terbatas.

Lihat sahaja, kerajaan Britain hari ini, bajet terbaru menyaksikan pihak parti pemerintah terpaksa mematahkan janji manifestonya untuk tidak menaikkan cukai pendapatan individu, tetapi bajet pada minggu lepas (April 2009) menyaksikan mereka terpaksa menaikkan juga cukai individu kaya. Hasilnya, mereka dilanyak sepuas hati oleh pembangkang yang diketuai oleh David Cameroon. Itulah politik kepartian yang merugikan banyak pihak jika tidak ditangani dengan baik.

Semoga apa yang dicoretkan mampu memberi sedikit sebanyak manfaat buat anda. 

Sekian,

kepada para pemimpin

Author: hamzah salleh // Category:

Wahai Para Pemimpin : 
Lihat & Contohilah Pemerintahan
Umar Al-Khattab r.a

Pemimpin adil lagi beriman amat dirindui,

Kita kerap kali menyebut berkenaan kehebatan Khalifah Umar bin Abd Aziz dalam pentadbirannya sebagai pemerintah, sehinggakan masyarakat bukan Islam turut mengetahui berkenaannya serba sedikit lalu menjadikannya role model dalam ucapan-ucapannya, saya berharap agar ia bukan hanya terhenti setakat di dalam ucapan sahaja dalam tindakannya. Tidak dinafikan usaha ke arah itu dapat dilihat sedikit demi sedikit, tahniah diucapkan.

Selain Umar Abd Aziz, kita juga adakalanya dapat membaca kehebatan pentadbiran Islam di bawah khalifah kedua Islam iaitu Umar Al-Khattab r.a. Dalam tulisan ringkas ini saya ingin berkongsi beberapa petikan kisah ketegasan Umar Al-Khattab semasa pemerintahannya termasuk semasa menerima laporan dari rakyat terhadap perilaku gabenor-gabenor yang dilantiknya; ia amat baik dijadikan panduan dan ingatan bagi para pimpinan pentadbiran korporat, kerajaan negeri dan pusat dan bagi mereka yang ingin mengambil pengajaran.

KISAH 1 : KHALIFAH UMAR r.a DAN SA'AD ABI WAQQAS r.a [1]

Umar al-Khattab telah melantik Sa'ad Abi Waqqas r.a seorang sahabat besar Nabi s.a.w sebagai gabenor di Kufah, Iraq. Namun terdapat beberapa kumpulan munafiq yang amat benci kepada Sa'ad, lalu membuat aduan palsu kononnya Sa'ad r.a tidak adil dalam pembahagian dan tidak memimpin ketika peperangan. Sedangkan di ketika itu, kerajaan Islam sedang sibuk membuat persiapan untuk menuju ke Nahawand. Amat difahami kumpulan ini ingin mengganggu kelancaran perancangan kerajaan Islam.

Walaupun aduan ini sememangnya telah diketahui palsu oleh Umar Al-Khattab r.a tetapi beliau masih meraikannya secara SERTA MERTA dengan menghantar wakil penyiasat iaitu Muhammad Ibn Maslamah. Umar r.a seorang yang amat sensitif dan serius dengan segala laporan terhadap gabenor lantikannya. Tatkala proses siasatan terbuka dijalankan, semua wakil ketua yang berada di Kufah tidak tahu menahu berkenaan laporan ketidakladilan Sa'ad lalu semuanya mengkhabarkan kebaikan Sa'ad.

Tiba-tiba muncul Usamah Bin Qatadah mendakwa Sa'ad tidak  adil dan tidak memimpin perang. Sa'ad menafikan dengan sumpah serta mendoakan buta mata, kurang zuriat dan terdedah kepada fitnah dunia bagi sesiapa yang menipu dan melontarkan fitnah ke atasnya. Hasil doa individu soleh seperti Sa'ad, kesemua kumpulan yang meinpu ini mati . Usamah pula menjadi buta, kurang zuriat dan ditimpa nafsu syahwat yang luar biasa.

Walaupun Sa'ad terbukti selepas itu tidak bersalah, demi mengelakkan perpecahan dan menjaga status Sa'ad bin Abi Qaqqas, Umar al-Khattab meminta Sa'ad untuk menamakan penggantinya, lalu dilantik ‘Abdullah bin Abdullah Bin ‘Utban yang merupakan timbalan kepada Sa'ad sebelum ini. Manakala Sa'ad di bawa ke Madinah bagi menyertai ahli Majlis Syura Khalifah di Madinah. [2]

KISAH 2 : UMAR R.A DAN HARTA GABENOR DAN PEGAWAINYA

Umar al-Khattab begitu tegas dan ketat dalam urusan kewangan negara, beliau juga amat ketat dalam meneliti pendapatan dan harta setiap gabenor dan pegawainya. Setiap pegawai yang dilantik akan diminta melakukan deklarasi harta, dan peningkatan hartanya akan disemak dengan begitu kerap. Jika peningkatan berlaku, Umar r.a akan mengambil separuh untuk baitul Mal dan dalam beberapa keadaan Umar r.a mengambil semuanya. [3] Selain itu, Umar r.a turt melakukan lawatan mengejut ke ruamh pegawainya bagi memastikan tiada pertambahan harta secara syubhah. [4]

Berikut beberapa kisah prihatinnya Umar r.a r.a :-

a-  Gabenor kerajaan Islam di Mesir pada ketika itu adalah seorang sahabat bernama ‘Amr bin Al-‘As. Beliau dilaporkan membuat satu mimbar khas untuk dirinya di Mesir. Ini menyebabkan Umar al-Khattab menjadi marah lalu menghantar surat kepada ‘Amru yang menyebut  

"Aku mendengar kamu telah membina satu mimbar agar boleh meninggikan dirimu dari umat Islam, adakah tidak cukup kamu berdiri dan mereka berada di kakimu, aku ingin kamu segera meruntuhkan mimbarmu" [5]

b-  Dalam satu keadaan lain, Sa'ad juga dilaporkan membina pagar di sekitar rumahnya ( di ketika itu amat jangkal rumah mempunyai pagar kecuali terlalu kaya), sehingga orang ramai menggelarkannya "ISTANA SA'AD". Dinyatakan bahawa Sa'ad membina agar itu kerana rumahnya berhampiran degan pasar dan amat bising, lalu dibinanya agar dapat menghalang sedikit kebisingan. Apabila berita sampai kepada Umar al-Khattab, beliau melihat mudarat pagar itu lebih besar dari manfaatnya, lalu  dengan segera menghantar Muhammad bin Maslamah untuk membakar pagar tersebut.[6]

c-  Umar r.a telah melantik Mujasha' bin Mas'od untuk beberapa tugasan, dan kemudiannya mendapat laporan isteri Mujasha' bernama al-Khudayra kerap membeli perabot baru dan hiasan dinding. Lalu Umar r.a menghantar surat kepada Mujasha' agar mengoyakkan semua hiasan dinding. Mujasha' menerima surat itu ketika bersama orang ramai, lalu dengan segera beliau mengarahkan isteri keluar lalu diminta orang ramai masuk ke rumah dan membantu mengoyak dan menurunkan semua hiasan dinding baru yang dibeli isterinya[7]. Sebenarnya, Umar r.a tahu ia dibeli dengan harta syubhah akibat jawatan Mujasha', kerana itu diarahkan sedemikian. Anda juga boleh melihat betapa kuatnya taat dan yakinnya para pegawai dengan keikhlasan dan kejujuran Umar r.a.

d- Umar r.a pernah melawat pegawai-pegawainya di Syria, dan kemudian Yazid Bin Abi Sufyan menjemputnya datang ke rumah, ketika Umar r.a memasuki rumah lalu dilihatnya penuh dengan hiasan dinding bergantungan. Umar r.a mula mengambilnya sambil berkata

"barang-barang ini boleh digunakan oleh rakyat jelata untuk melindungi diri mereka dari kesejukan dan panas" [8]

e- Umar r.a juga pernah mengambil beberapa bahagian harta adik beradik gabenornya dan pegawainya apabila hasil penyelidikannya mendapati keraguan. Contohnya seperti beliau mengambil sebahgian dari harta Abu Bakrah. Namun Abu Bakrah cuba membantah dengan mengatakan

"aku tidak pernah berkhidmat denganmu (sebagai pegawai kerajaan)"

Umar r.a menjawab

"Ya benar, tetapi adikmu berkhidmat sebagai penyelia Baitul Mal, dan dia telah memberikan beberapa pinjaman kepadamu agar kamu boleh berniaga dengannya" [9]

Kesimpulannya, semua tindakan Umar r.a ini tidaklah diambil secara sembrono, kisah ini hanyalah ringkasan sahaja, dan tindakan beliau semua bagi mengelakkan jawatan di jadikan PELUANG UNTUK MERAUT KEKAYAAN.

Ibn Taymiah mengulas beberapa tindakan Umar r.a tadi bagi membuang segala keraguan rakyat terhadap pendapatan para gabenor dan pegawainya, yang mungkin menjadi kebiasaan diberi hadiah oleh rakyat jelata disebabkan oleh jawatannya.[10]

KISAH 3 : KHALIFAH UMAR r.a DAN DENDA ANAKNYA

Abd Rahman bin Umar Al-Khattab, salah seorang anak Umar al-Khattab berada di Mesir dan dilaporkan telah melakukan kesalahan dengan meminum arak. Beliau kemudiannya meminta Amru bin Al-‘As untuk melaksanakan hukuman ke atasnya.

Namun Amru al-‘as r.a merasa serba salah kerana ia adalah anak khlaifah lalu menjatuhkan hukuman secara sedikit berbeza iaitu mencukur kepalanya dan ia disebat secara tertutup di dalam rumahnya. Sepaptunya prosedur di ketika itu adalah hukuman minum arak mestilah dicukur dan disebat pada waktu yang sama di hadapan khalayak ramai.

Peristiwa ini bocor kepada Umar r.a lalu beliau menghantar surat yang antara lainnya menyebut :-

"engkau telah menyebat dan mencukur Abd Rahman di dalam rumahmu dan KAMU TAHU IA BERTENTANGAN DENGAN APA YANG AKU HARAPKAN (hukuman seperti orang lain), ...Abd Rahman adalah salah seorang warga di bawah tanggungjawabku (DI AKHIRAT), dan kamu beralasan dengan mengatakannya adalah anak Khalifah sedangkan kamu tahu aku TIDAK SESEKALI BERKOMPROMI dengan sesiapapun dalam melaksanakan amanah terhadap Allah swt" [11]

KISAH 4 : KHALIFAH UMAR r.a DAN KHALID IBN WALID r.a

Khalid Ibn Waled, yang terkenal sebagai ‘pedang islam' dilucut jawatan sebanyak dua kali oleh Umar r.a al-Khattab, iaitu pada tahun 13 Hijrah sejurus selepas Umar r.a dilantik sebagai khalifah dan sekali lagi pada 17 Hijrah.[12] Namun kedua-dua peristiwa ini bukan kerana Khalid tidak baik dan bermasalah, Namun ia adalah dari sebab berikut [13] :-

a-  Menjaga keyakinan umat Islam terhadap Allah, ia jelas dari surat umum yang dihantar Umar r.a kepada umat Islam memberitahu agar mereka tidak terlalu ‘attached' dengan Khalid sehingga tersilap sangka kemenangan Islam disebabkan oleh kehandalan Khalid dan bukan kerana bantuan Allah swt.

b-   Pentadbiran ; iaitu dalam urusan dan keputusan pembahagian harta.

c-   Pentadbiran : Umar r.a inginkan keteletian dan laporan berterusan dari setiap pegawainya, namun Khalid inginkan pentabdiran yang bebeas dari penelitian sentiasa oleh Khalifah.

Di waktu Khalid dipecat dari jawatannya sebagai gabenor di Syria, belia berkata :-

"Amir al-Mukminin (Umar r.a) melantik aku sebagai gabenor dan setelah urusan menjadi licin dan lancer, beliau melucutkan jawatanku"

Lalu seorang lelaki berkata : "Sabarlah wahai ketua, ia waktu untuk bermulanya fitnah"

Kahlid membalas :

"selagi anak Al-Khattab ini hidup, selagi itu TIADA RUANG FITNAH untuk berlaku" [14]

Demikian hormat dan keyakinan Khalid terhadap Umar r.a walau dalam keadaan beliau dilucutkan jawatan, amat difahaminya tindakan Umar r.a adalah untuk mengelak fitnah, bukan mencipta fitnah.

Di ketika Khalid r.a hampir wafat (beliau wafat pada 21 H), beliau berkata kepada Abu Darda r.a,

"Wahai Abu Darda, bila Umar r.a al-Khattab r.a wafat kelak, kamu akan dapati sesuatu yang kamu benci berlaku"

Dan berkata lagi sambil mengelap air matanya:

"Aku memang merasa sedikit kecewa dengan beliau dalam sesetengah isu, tetapi setelah aku fikrikan kembali berkenaannya di ketika aku sakit ini, aku menyedari bahawa Umar r.a Al-Khattab r.a melakukannya dengan ikhlas dan hanya mengharapkan rahmat Allah dari setiap tindakannya"[15]

Khalid juga melantik Umar r.a sebagai waasi (pengurus harta pusakanya), ketika Umar r.a al-Khattab menrima surat wasiat itu, beliau turut menangis.

Cuba kita bayangkan ketegasan Umar al-Khattab r.a tersebut dan bagaimana tingginya taqwa beliau dan juga para sahabat yang bersamanya. Mengapa mereka tidak melenting akibat diambil sebahagian harta dan sebagainya?. Kerana Umar sendiri mengambil hartanya untuk umat Islam, dan beliau tidak makan daging sehingga semua orang miskin di bawah pentadbirannya makan terlebih dahulu.

Cuba pula kita membandingkan kehidupan para pemimpin di sekeliling kita hari ini. Bagaimana mereka jika berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab r.a.. Sesungguhnya wahai Umar al-faruq kami merinduimu pemerintahanmu..


Sekian

past days to remember

Author: hamzah salleh // Category:






palestine will always belong to the arabs

Author: hamzah salleh // Category:











TANGGAL 15 Mei 1948 merupakan tarikh yang amat penting untuk disingkap oleh semua umat Islam di seluruh dunia. Tarikh penting tersebut adalah detik hitam bagi penduduk asal bumi Palestin, orang Arab dan dunia Islam secara keseluruhannya.

Pada tarikh tersebut, penubuhan negara haram Israel di atas bumi Palestin telah diisytiharkan secara rasminya. Peristiwa tersebut turut dikenali sebagai
'nakba'.

Nakba bermaksud malapetaka atau ben- cana besar. Dalam peristiwa nakbah, Yahudi Zionis telah bertindak kejam dengan mengusir lebih daripada 60 peratus rakyat Palestin (lebih kurang 800,000 orang daripada sejumlah 1.39 juta rakyat) ke luar ne- gara, manakala 30,000 yang lain telah di- usir ke daerah-daerah yang ditakluki mereka.

Daripada 580 perkampungan rakyat Palestin yang wujud sebelum perang 1948, rejim Zionis telah menghancurkan 478 daripadanya serta terlibat dalam lebih 34 jenayah pembunuhan beramai-ramai rakyat Palestin.

Rejim Zionis telah bertindak di luar batas kemanusiaan. Nyawa penduduk Palestin bagaikan tiada nilai di mata mereka. Pelbagai peristiwa pembunuhan beramai-ramai telah berlaku sepanjang peristiwa Nakbah. Antara peristiwa yang paling tragis ialah tragedi Deir Yassin pada 9 April 1948 yang melibatkan pembunuhan seramai 254 orang termasuk orang tua, wanita dan 52 orang kanak-kanak.

Petugas Palang Merah dan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) sendiri menyaksikan bagaimana rumah-rumah rakyat Palestin dibakar dan orang yang cuba menyelamatkan diri ditembak.

Sejarah kejatuhan bumi Palestin ke tangan Yahudi bermula apabila Britain melalui Setiausaha Negara Hal Ehwal Luarnya,
Arthur Balfour, telah mengeluarkan satu kenyataan bertarikh 2 November 1917 yang menjanjikan masyarakat Yahudi satu tanah airnya di Palestin. Pengisytiharan itu telah digelar sebagai Ominous Declaration (Pengisytiharan Celaka).

Isu Palestin menjadi isu antarabangsa apabila kerajaan Britain pada 2 April 1947 mendesak supaya isu Yahudi dan Palestin dimasukkan sebagai agenda PBB. Tidak lama selepas itu, sebuah jawatankuasa antarabangsa telah ditubuhkan untuk mengkaji dan membuat laporan mengenai isu Palestin.

Cadangan dasar jawatankuasa ini adalah pembahagian wilayah Palestin yang tidak adil iaitu kepada negara Arab dan negara Yahudi yang merdeka, dan Jerusalem (Baitulmaqdis) diletakkan di bawah tanggungjawab antarabangsa. Jelas sekali bahawa PBB sendiri bersubahat dalam proses pendudukan haram Yahudi di Palestin dan menjadi boneka kepada Yahudi.

Penderitaan yang dialami oleh penduduk Palestin hingga kini masih belum berakhir. Rakyat Palestin telah mencuba pelbagai cara untuk membebaskan bumi Palestin dan mendapatkan kembali hak-hak mereka yang telah dirampas di tanah suci tersebut. Antaranya ialah melalui perjanjian damai, persidangan, perundingan, dengan mengikut pelan damai yang dianjurkan oleh PBB dan sebagainya. Bagaimanapun, semua cara itu menemui kegagalan dan rakyat Palestin memilih jalan lain untuk merungkai permasalahan mereka iaitu dengan kebangkitan, penentangan dan perjuangan jihad.

Dalam usaha untuk membebaskan negara sendiri daripada cengkaman penjajah, penduduk Palestin telah dilabel sebagai pengganas oleh Israel dan sekutunya. Mereka cuba untuk mengaburi mata masyarakat dunia melalui media massa yang sering memperlihatkan dan menonjolkan penduduk Palestin sebagai pengganas.

PengganasYahudi mendakwa bahawa mereka menjadi mangsa kekejaman penduduk Palestin sedangkan pengganas sebenar adalah mereka sendiri. Yahudi turut mendakwa bahawa mereka adalah penduduk asal di bumi Palestin semenjak zaman nabi Musa a.s lagi.

Namun hakikatnya, kedatangan mereka ke Palestin adalah sebagai imigran pada ke- tika itu. Dan kini mereka bertapak di bumi Palestin melalui kolonialisasi.

Dakwaan bangsa Yahudi bahawa faktor sejarah menjadikan mereka lebih berhak ke atas Palestin tidak berasas. Mereka hanya sempat memerintah sebahagian kecil kawasan di bumi Palestin untuk tempoh empat tahun sahaja sedangkan pemerintahan Islam berlanjutan selama 12 kurun (636M - 1917M).

Bangsa Yahudi juga suatu ketika dahulu ramai yang telah meninggalkan Palestin dan hubungan mereka dengannya terputus untuk hampir 18 kurun lamanya (135M - kurun ke-20).

Manakala penduduk asal Palestin pula tidak pernah meninggalkan bumi Palestin untuk selama 4500 tahun hinggalah kepada pengusiran secara paksa oleh kumpulan pengganas Yahudi pada tahun 1948. Namun mereka tidak pernah menyerah kalah malah terus berusaha untuk menegakkan kembali hak mereka ke atas bumi Palestin.

Sesungguhnya tragedi yang menimpa penduduk Palestin merupakan isu yang melibatkan seluruh umat Islam di dunia. Kepentingan Palestin bagi umat Islam amat jelas berdasarkan al-Quran dan hadis. Ia adalah bumi suci di mana ramai para rasul Alaihissalam dilahirkan dan wafat di sana. Ia adalah medan perjuangan mereka untuk menegakkan kalimah tauhid. Bumi Palestin juga telah dimuliakan oleh Allah SWT dengan kewujudan Masjid al-Aqsa. Masjid ini di samping kiblat pertama umat Islam, juga antara masjid yang dimuliakan Allah SWT dan tanah suci ketiga setelah Mekah dan Madinah.

Rasulullah SAW bersabda,

"Diutamakan (digandakan) solat di MasjidilHaram atas yang lain dengan seratus ribu solat, dan di masjidku dengan seribu solat dan di Masjid Baitulmaqdis dengan lima ratus solat." (Riwayat at-Tabrani - martabat Hassan)

Selain itu, Baitulmaqdis merupakan kiblat umat Islam. Umat Islam bersolat berkiblatkan Baitulmaqdis sepanjang kehidupan Rasulullah SAW di Mekah sebelum hijrah dan juga selama 16 bulan pertama Rasulullah SAW di Madinah. Selepas itu Allah SWT mengarahkan agar kiblat bertukar arah ke Kaabah di Mekah. Baitulmaqdis juga merupakan tempat berlakunya Israk dan Mik- raj. Firman Allah SWT:

"Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambanya (Muhammad pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang kami berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran kami." (al-Isra':1)

Terdapat juga beberapa ayat lain di dalam al-Quran dan beberapa hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan keistimewaan Baitulmaqdis di dalam Islam yang menunjukkan bahawa Allah SWT memuliakan tanah-tanah di sekelilingnya. Ia juga menyebabkan para sahabat Rasulullah SAW sangat menyayangi bumi Palestin ini. Malah ketika Umar al-Khattab r.a menjejakkan kakinya ke kawasan ini buat pertama kalinya, beliau telah mengumumkan bahawa seluruh bumi Palestin itu adalah wakaf kepada generasi umat Islam akan datang.

Realitinya, umat Islam pernah menguasai Baitulmaqdis selama 12 kurun dan memelihara kesucian kota ini, selepas ia dicemari tangan-tangan kufur berkurun lamanya. Kini, Baitulmaqdis kembali ke tangan kufur, maka siapakah yang akan mengembalikannya ke tangan umat Islam?

Sesungguhnya Palestin bukanlah milik orang-orang Palestin sahaja, Baitulmaqdis bukanlah tempat suci mereka sahaja dan Masjidilaqsa bukanlah milik mereka sahaja tetapi milik kaum Muslimin dari Timur sampai ke Barat.

Ia juga milik umat Islam generasi kini dan akan datang hingga hari kiamat. Oleh yang demikian, perjuangan untuk membebaskannya daripada tangan-tangan kufur adalah perjuangan kita bersama